PEMAHAMAN SISWA DI MASA PANDEMI

Pemahaman Siswa Dimasa Pandemi


Oleh:
Nama        : Irmaini
Lokal        : PAI A/5
Jurusan    : Pendidikan Agama Islam







Belajar sudah menjadi kewajiban bagi para siswa. Mecari ilmu, mengasah skill yang dimiliki, dan juga menambah wawasan demi kecerdasan otak. Tentunya merupakan poin utama yang harus dikejar oleh siswa. Terkadang nilai masih menjadi patokan tingkat ukur rajin dan pintarnya siswa. Tak selalu nilai hanya berasal dari hasil mengerjakan tugas dan soal yang diberikan oleh guru. Terkadang beberapa guru juga memberikan nilai khusus atas etika, sopan dan santun, serta keaktifan siswa sendiri. Siswa dituntun dan dilatih agar otak dan wawasan berpikir luas, terbuka, etika dan tingkah laku dapat dilatih untuk terus menjadi lebih baik, serta bakat dan kemampuan yang terus menerus diasah agar dapat berkembang dari hari kehari yang nantinya diri sendiri maupun kepentingan banyak masyarakat.

Siswa merasa belajar secara tatap muka atau berada dikelas seperti biasanya lebih optimal dan penyampaian materi oleh guru jauh lebih dapat diterima daripada belajar secara daring. Karena siswa mengalami banyak kendala dan hambatan dalam proses pembelajaran secara online seperti siswa kurang paham atas suatu materi yang disampaikan oleh guru, jaringan yang tidak stabil saat kelas online mengaku sangat kesusahan dalam menyerap materi yang diberikan oleh guru, mengakibatkan tidak maksimalnya materi yang disampaikan oleh guru serta beberapa siswa kesulitan memahami materi  dan juga dalam mengerjakan tugas baik itu tugas kelompok ataupun individu.

Di tambah lagi siswa merasa kesulitan untuk menggunakan aplikasi belajar yang ada di handphonenya untuk mengerjakan tugas dan apalagi banyak dari siswa yang handphonenya tidak memadai digunakan untuk belajar. Siswa mengaku tidak selalu mengecek atau memegang handphone karena di rumah banyak tugas yang diberikan oleh orang tua yang mengakibatkan tugas anak tidak dikerjakan sesuai sesuai dengan waktunya. Dan hasilnya akan berdampak pada nilai akhir siswa karena tidak disiplin dalam mengumpulkan tugas atau tidak dikerjakan secara maksimal dan dapat mempengaruhi nilai lafor nantinya. Karena tidak tersampaikannya materi dengan baik serta pengerjaan tugas yang kurang maksimal dan dikhawatirkan siswa mendapatkan nilai yang mneurun dari biasanya dan tingkat pemahaman siswa menjadi menurun.

Menurut Wibawanto (2017: 5) pembelajaran merupakan perpaduan dari aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Menurut Anas (2011: 50) pemahaman (comprehension) adalah kemampuan seseorang untuk mengerti dan memahami sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihat dari berbagai segi. Seorang peserta didik  dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberikan uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Proses pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan bertemu di kelas dan saling bertatap muka, kini dapat dilakukan dengan dari rumah masing-masing dengan memanfaatkan tekhnologi yang ada.

Pembelajaran online merupakan sebuah metode pembelajaran berbasis internet atau belajar online yang harus dijalani semua siswa-siswi hingga mahasiswa-mahasiswa di Indonesia bahkan seluruh wilayah didunia yang terpapar pandemic Covid-19 guna menyambung proses belajar tatap muka yang terkendala karena social distancing atau tidak berkerumun untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19. Di Indonesia, sistem online bukan lagi sesuatu yang asing, hanya saja tidak semua sekolah pernah menerapkan sistem ini, terutama sekolah-sekolah yang berada didaerah terpencil atau didesa-desa.

Pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran, karena itu belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofisnya maksud dari implikasinya dan aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa dapat memahami suatu situasi (Devi, 2017: 56). Keharusan akan perlunya pemahaman dalam belajar menjadi kondisi yang mutlak harus terpenuhi dalam teori kognitif.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemahaman belajar banyak jenisnya, akan tetapi dapat digolongkan menjadi dua saja, yaitu factor intern dan faktor ekstern.

a.       Faktor intern adalah faktor yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah factor yang ada di luar individu. Faktor-faktor intern Faktor-faktor yang dibahas dalam faktor intern ini ada tiga faktor, yaitu Faktor jasmaniah, Sehat berarti dalam keadaan baik dan bebas dari penyakit. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, selain itu mejadi kurang bersemangat dan adanya gangguan-gangguan lainnya. Faktor Psikologis dan kelelahan.

b.      Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu factor keluarga, sekolah dan masyrakat.

Mulyasa menyimpulkan bahwa pemahaman peserta didik dalam proses pembelajaran dapat dikembangkan dengan memberi kepercayaan, komunikasi yang bebas dan pengarahan diri. Dalam hal ini, peserta didik akan lebih mudah untuk memahami pelajaran jika :

a.  Dikembangkannya rasa percaya diri dalam diri peserta didik, sehingga peserta didik  tersebut akan lebih mudah untuk memahami pelajaran yang diberikan.

b.      Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berkomunikasi secara bebas dan terarah.

c.       Melibatkan peserta didik secara aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran secara keseluruhan sehingga pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran dapat tercapai.

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwasanya pemahaman disini dapat diartikan sebagai kemampuan siswa untuk dapat memahami atau menguasai suatu bahan materi ajar dalam suatu pembelajaran. Pemahaman bukan hanya sekedar tahu, tetapi juga menginginkan siswa yang belajar dapat memanfaatkan atau mengaplikasikan apa yang telah dipahaminya. Apabila siswa tersebut memahami apa yang telah dipelajarinya, maka siswa tersebut akan siap untuk menjawab pertanyaan yang diberikan pada saat belajar.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa seorang siswa dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal yang dia pelajari dengan menggunakan bahasanya sendiri. Lebih baik lagi apabila siswa dapat memberikan contoh atau mensinergikan apa yang dia pelajari dengan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitarnya. Dalam hal ini, siswa dituntut untuk memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang dikomunikasikan, dan dapat memanfaatkan isinya tanpa keharusan untuk menghubungkan dengan hal-hal yang lain. Karena kemampuan siswa pada usia SD masih terbatas, tidak harus dituntut untuk dapat mensintesis apa yang dia pelajari.

Inti dari pembelajaran ini adalah membuat pembelajaran yang simple agar siswa mudah memahami apa yang disampaikan oleh guru sehingga banyak orang tua murid mengeluh atas tugas anaknya. Sehingga siswa lalai dalam mengerjakan tugas. Upaya guru dalam mengatasi kondisi seperti saat sekarang adalah dengan memaksimalkan sumberdaya yang ada. Pembelajaran daring ini dapat terlaksana dengan semaksimal mungkin denganbantuan dan kerja sama dari orang tua siswa agar siswa bisa sukses dan berhasil dala pembelajaran daring dimasa pandemic Covid-19 ini.


Rujukan

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Hartono dkk. 2008. PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan. Pekanbaru: Zanafa Publishing.

Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung : Alfabeta.

Wibawanto, wandah. 2017. Desain Pemrograman Multimedia Pembelajaran interaktif. Jawa Timur: Cerdas Ulet kreatif.



Komentar